Rabu, 29 Juli 2015

Ironi Persahabatan

persahabatan

Sahabat, memang indah memiliki sahabat. Sahabat adalah teman senasib seperjuangan. Senang rasanya memiliki sahabat. Sahabat, dekat di mata dekat di hati. Sahabat memiliki hubungan yang sangat erat, akrab gile… Tak dipungkiri jika terkadang seseorang merasa candu dengan sahabatnya. Istilah anak sekarang “Gak ada loe.. gak rame”. Kemana-mana terus sama sahabatnya. Kalau yang sahabatan berdua ya kemana-mana berdua, kalau bertiga ya kemana-mana bertiga, ada yang berempat, berlima, daan seterusnya. Pergi makan sama sahabat, pergi belanja sama sahabat, belajar sama sahabat, kemana-mana bareng sahabat. Sampai-sampai izin ke toilet pun juga barengan sahabat (hmm… kencan ya??). nempel terus deh kayak perangko. Lucunya kalau yang sahabatnya banyak dan jadi satu genk, kalau lagi jalan bareng terlihat seperti orang mau demo nuntut pemerintah nurunin BBM, tapi kalau dipandang dari nuansa islami mereka terlihat seperti para mujahidin sejati yang sedang menghadapi perang Badar (icak-icaknya. Ciee… ujung-ujungnya syahid tu...).

Tak sedikit seseorang yang menjalin ikatan persahabatan terkadang merasa lebih dekat dan lebih nyaman dengan sahabatnya ketimbang dengan seseorang yang memiliki ikatan darah dengannya. Sahabat sehati, sahabat sejati, merangkul pundak, berpegang tangan, berjalan beriringan, tak ingin saling meninggalkan, lebih tak mau lagi jika ditinggalkan. Jika sahabat gagal tak sampai hati, sahabatpun turut bersedih. Tapi jika sahabat berhasil dan jauh melampaui kita, sedih hati tak pula sirna malah bertambah gundah gulana. Karena sahabat juga manusia.

Sahabat bukan segalanya. Sahabat bukan pahlawan seperti spiderman, superman, atau power ranger yang selalu bersedia hadir saat sahabatnya terancam dalam bahaya. Sahabat bukan sumberdaya alam yang selalu bisa dimanfaatkan. Sahabat juga bukan boneka yang bisa di atur semaunya saja. Sahabat juga bukan belahan jiwa tempat berbagi segala suka dan duka atas nama cinta. Namun ironisnya, sebagian orang menganggap bahwa sahabat adalah segalanya. Harus selalu ada kapanpun ia mau, kapanpun ia membutuhkan. Karena tak paham dengan makna sahabat yang sebenarnya. Terlalu sempit memaknai kata sahabat dalam hidupnya. atau ia maknai kata sahabat menurut persepsinya sendiri. Terlalu membedakan antara teman dan sahabat (naïf sekali…). Padahal bukan itu sebenarnya, sahabat juga manusia. Ia memiliki raga yang terpisah, juga jiwa yang tak serupa warnanya. Tentunya ia juga memiliki takdir dan jalan hidup yang berbeda. Sahabat, biarkan ia berjalan sendiri. Biarkan ia mengukir jejak dalam hidupnya yang tentu berbeda denganmu sahabat. Jangan kau ikat dia dalam penjara dan belenggu egomu. Segeralah dewasa. Percayalah bahwa kau bisa. Dan kau adalah pribadi yang mandiri.

Hmm, . persahabatan yang dewasa adalah ia yang saling memahami. Ia yang tak tersinggung saat sahabatnya tak sengaja menyakiti. Ia yang tidak terlalu sensitif dengan tindakan dan ucapan sahabatnya yang terkadang tak seperti yang diinginkan. Ia yang tak terlalu memikirkan masalah yang barusan terjadi dengan sahabatnya, mudah memaafkan, menganggap semua masalah sebagai warna persahabatan. Ia yang ringan tangan dan saling memotivasi, bukan malah saling menjatuhkan. Ia yang tak menceritakan keburukan sahabatnya kepada orang lain. Ia yang kadang datang juga pergi. Kadang bisa kadang tidak. Namun tetap peka dan tak lupa diri bahwa ia memiliki sahabat yang membutuhkannya. Tapi sahabat juga harus memahami bahwa ia yang tak bisa membantu tentu ada kepentingan yang mungkin tak bisa ditinggalkan. Di sinilah gunanya membangun relasi. Tak ada sahabat, orang lain pun jadi. Sahabat tak boleh berburuk sangka. Sahabat juga tak semestinya lari dari kenyataan dengan alasan yang diada-ada. Itulah persahabatan yang manusiawi.

Kusampaikan padamu para pemilik sahabat. Jangan terlalu terikat dengan sahabatmu. Karena sahabat tak ada yang abadi. Hiduplah mandiri. Karena pada akhirnya kita akan hidup dan berjalan sendiri-sendiri sampai akhir nanti. Hisab di akhiratpun juga sendiri. Gantungkan diri hanya padaNya.

gambar : free-wallpapers.zz.mu
smile emotikon